Posted by: fren2006 | April 5, 2010

Pengisian Database FREN

bagi yg belum ngisi biodata FREN silakan klik ling di bawah ini

DATABASE FREN

Advertisements
Posted by: fren2006 | March 29, 2010

Download e-book keren

Ayo ikhwah fillah FREN,..dah tersedia buku2 keren yg

bisa di Download dari Blog ini,..

buka page DOWNLOAD dan temukan ke asyikannya

ttd ADIMN

Posted by: fren2006 | February 4, 2010

FATWA MUI TENTANG PLURALISME

Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII VII MUI 2005.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PLURALISME AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM

Pertama : Ketentuan Umum

Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan

1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanyasaja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.

2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

3. Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnaah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

4. sekualisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesame manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan social.

Kedua : Ketentuan Hukum

1. pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam.

2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama.

3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.

4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan social dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal: 22 Jumadil Akhir 1426 H.

29 Juli 2005 M

MUSYAWARAH NASIONAL VII

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

Posted by: fren2006 | January 18, 2010

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,…

Awali sebuah catatan hati ini dengan menyebut Asma-Nya dan mengagungkan-Nya

Ukhti fillah rahimakumullah, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan HidayahNya kepada kita dalam mengemban amanah sebagai khalifah fil ardh, sebagai pengampu amanah da’wah, mewujudkan cita-cita besar untuk kemenangan islam.
“wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Rasulullah SAW sebagai sosok pemimpin yang mulia, senantiasa menjadi teladan kita dan sudah semestinya shalawat serta salam kita haturkan untuk beliau.

Ukhti shalihah, kami yakin dan percaya bahwa antunna adalah para penggerak da’wah yang kokoh di fakultas antum masing-masing, yang kemudian tentu saja merepresentasikan da’wah di undip secara keseluruhan, khususnya da’wah kemuslimahan.

Mengapa harus da’wah muslimah? Tentu antunna pun sudah tahu jawabannya, karena kita_ akhwat, perempuan_ adalah calon ummi, lebih dahsyat lagi, calon Guru Peradaban. Kenapa guru peradaban? Karena Ibu adalah Madrasah pertama bagi putra-putrinya, bagi calon penerus bangsa, calon pemegang estafet da’wah.
Menjadi mar’ah shalihah, zaujah muthiah wa ummul madrasah (Wanita Shalihah, Istri yang taat dan guru Peradaban) adalah visi terbesar kita.

Tentu saja, da’wah adalah sebuah kewajiban bagi tiap individu yang menapak di bumi Allah, namun… dalam melaksanakan tugas yang mulia itu alangkah lebih mulia dan indahnya jika kita lakukan dalam sebuah harmoni indah amal jama’i.karena kesolidan itu adalah penopang kita, jalan yang pastinya memudahkan dan meringankan kita dalam mengusung da’wah khususnya da’wah kampus di Undip Tercinta. Read More…

Posted by: fren2006 | January 2, 2010

Ijinkan aku Menunduk…

Berikut adalah sepenggal kisah ketundukan pandangan, kemuliaan akhlaq seorang Utsman bin Thalhah, dalam kisah hijrah Ummu Salamah, yang diceritakan oleh Ummu Salamah dan diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq..
…’Utsman bin Thalhah bertanya padaku, “Hendak pergi ke mana wahai putri Abu ‘Umayyah?”

“aku hendak menemui suamiku di Madinah”

“Tidak adakah seseorang yang menyertaimu?”

“Tak seorangpun, kecuali Allah dan anakku ini…”
“Demi Allah tidak selayaknya engkau dibiarkan seperti ini”, katanya. Lalu dia menuntun tali kendali unta dan membawaku berjalan dengan cepat. Demi Allah aku tidak pernah bepergian dengan seorang laki-laki dari kalangan Arab yang lebih santun dari dirinya.

Jika tiba di suatu tempat persinggahan, dia menderumkan unta, kemudian dia menjauh dan membelakangiku agar aku turun. Apabila aku sudah turun, dia menuntun untaku dan mengikatnya di sebuah pohon. Kemudian ia menyingkir dan mencari pohon lain, berteduh di bawahnya sambil tidur talentang. Jika sudah dekat waktunya untuk melanjutkan perjalanan, dia mendekat ke arah untaku dan menuntunnya. Sambil agak menjauh lagi dan membelakangiku dia berkata, “Naiklah!”

Jika aku sudah naik dan duduk dengan mapan di dalam sekedup, dia mendekat lagi dan menuntun tali kekang unta. Begitulah yang senantiasa ia lakukan hingga ia mengantarku sampai ke Madinah. Setelah melihat perkampungan bani ‘Amr bin ‘Auf di Quba’, dia berkata, “suamimu ada di kampung itu. Maka masuklah ke sana dengan barakah Allah”

Setelah itu, ia membalikkan badan dan kembali ke Makkah.
Luar biasa. Terimakasih padamu wahai ‘Utsman bin Thalhah, yang telah mengajarkan pada kami akhlaq laki-laki sejati. Inilah spontanitas hati yang mampu membedakan mana yang halal bagi dirinya dan mana yang tidak. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari sepenggal kisah ini.
Wallahu a’lam bisshowab…

by:Akh Gafur in his facebook note

Posted by: fren2006 | December 29, 2009

KTT IKLIM COPENHAGEN

FORMALITAS TANPA HASIL YANG DIKEMAS DALAM CEREMONIAL

tu mereka berada nun jauh disana. Berdasi, berjas rapi, membawa sebuah misi, yang konon katanya mempengaruhi kelangsungan hidup di dunia. Berkumpul disebuah kota dimana disana akan bertemu seluruh Negara-negara dunia, Negara kaya, Negara miskin, Negara berkembang, para Negara penjajah, para Negara terjajah, Negara yang sedang tertindas atau Negara yang tidak sadar bahwa mereka sedang ditindas, atau mungkin mereka sadar sedang ditindas tapi tidak berdaya.

Konferensi tingkat tinggi Perubahan Iklim Copenhagen namanya, atau Conference of Parties The United Nations Framework Convention on Climate Change. Berlangsung di Kopenhagen Denmark. Masih ingat tentang kepastian yang bakal terjadi jika seluruh utusan Negara berkumpul? Ya, mungkin sudah puluhan kali bahkan ratusan kali sebenarnya mereka berembuk membicarakan masalah ‘penting’ tapi hasil yang dicapai selalu ‘tidak penting!’. Bolehlah kalau kita mengatakan sudah bisa ditebak akhirnya. Yang untung siapa, yang rugi siapa, yang impas siapa dan yang dengan kerelaan hati tetap hidup dalam kerugian juga biasanya selalu ada.

Lalu Indonesia? Ah, jangan berharap banyak pada utusan dari pemerintahan yang untuk menyelesaikan kasus semudah Century dan se-vital KPK saja masih jatuh bangun. Dulu, walau baru saja merdeka atau bahkan belum merdeka sekalipun, akan selalu ada teriakan lantang….teriakan yang mengguncang dan mengubah dari para ‘pemimpin kita’. Tidak usah banyak perdebatan tentang hal ini, namun semat-an Negara yang katanya berhasil menerapkan demokrasi secara utuh dan konsekuen ini ternyata belum mampu juga menghasilkan pemimpin yang diharapkan. Ehm….Apa? demokrasi yang diharapkan??? Hehehe, 7 triliun hanya untuk satu kali pemilu propinsi. Betapa boros dan loyalnya kita pada demokrasi!?

by: Hasnul Ikhwan Industrial Fren’er

Posted by: fren2006 | December 25, 2009

Menjadi Politisi Dakwah (bag 1)

Apakah politisi dapat menjadi da’i?; Atau apakah dai dapat menjadi politisi?; Dan apakah mungkin kegiatan dakwah menjadi kegiatan politik?; Atau sebaliknya kegiatan politik menjadi kegiatan dakwah?. Menjawab beberapa pertanyaan di atas tidaklah mudah, apabila kita melihat persepsi masyarakat tentang dakwah dan politik. Dakwah dan politik adalah dua ‘kata’ yang kontra bagi mereka. Hal itu karena politik dipahami sebagai aktifitas dunia, sedang dakwah dipahami sebagai aktifitas akhirat. Yang pada gilirannya dipahami bahwa dakwah tidak pantas memasuki wilayah politik, dan politik haram memasuki wilayah dakwah. Dakwah adalah pekerjaan para ustadz, dan politik pakerjaan para politisi. Jika seorang ustadz yang menjadi politisi, ia harus menanggalkan segala atribut dan prilaku ke-ustadz-annya, dan harus mengikuti atau beradaptasi dengan perilaku para politisi. Demikian pula apabila seorang politisi menjadi ustadz ia pun harus menanggalkan baju politiknya, dan jika tidak, ia akan tetap dicurigai menggunakan agama sebagai alat politik.

Tapi, pertanyaan di atas akan menjadi mudah untuk dijawab, apabila politik dipahami sesuai dengan definisi aristoteles bahwa politik adalah: “Segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.” Definisi ini meliputi semua urusan masyarakat, temasuk di dalamnya masalah akhlak yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah, sebagaimana dipahami masyarakat.

Dan atau apabila dipahami definisi politik menurut Al-Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, yaitu, “Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat.” Intermal politik adalah “mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, dan dikritik jika mereka melakukan kekeliruan.” Sedang yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan den intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.”

Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat ma’ruf dan pencegahan dari kezhaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah.

Dengan pemahaman 2 definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa politik dan dakwah adalah dua kegiatan yang sangat terkait, dan sangat mungkin dakwah menjadi kegiatan politik, atau politik menjadi kegiatan dakwah, atau dapat disebut two in one. Bahwa dakwah adalah politik apabila ia berperan memahamkan masyarakat kepada hak dan kewajiban mereka. Dan bahwa politik adalah dakwah jika ia berperan mengajak masyarakat berbuat baik, memfasilitasi mereka berbuat ma’ruf dan menutup semua pintu bagi masyarakat untuk berbuat zalim dan dizalimi.

Secara operasional, bahwa dakwah adalah politik dan politik adalah dakwah dapat dipahami dengan baik oleh setiap muslim apabila:

Pertama, memahami universalitas Islam;

Kedua, memmahami risalah penciptaan manusia;

Ketiga, mengatahui cara merealisasikan risalah tersebut sesuai dengan ajaran Islam.

Sehingga setiap muslim harus menjadi da’i sekaligus menjadi politisi.

Karena itulah Hasan Al Banna mengatakan, “Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politisi, mempunyai pandangan jauh ke depan dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya.”

Lalu bagaimana menjadi politisi dakwah?

(http://www.al-ikhwan.net/)

Sebut saja namanya Ahmad, seorang aktivis sebuah pergerakan Islam. Semangatnya dalam menuntut ilmu tidak diragukan. Ke manapun ada kajian keislaman ia ikuti. Haus akan keilmuan ini sebanding dengan usianya yang masih cukup muda, 17 tahun. Di kalangan teman-temannya, Ahmad termasuk pemuda rajin, tekun dan cerdas.

Ahmad amat tegas. Masyarakat menyebutnya pemuda yang radikal dan keras. Menurut Ahmad masyarakat sekarang banyak terjerumus dalam perbuatan bid’ah, khurafat dan takhayul, bahkan sampai pada tingkat kemusyrikan. Ahmad tidak mau bergaul dengan masyarakat. Jika di rumah ia selalu menyendiri, tidak mau keluar kecuali ke tempat ia biasa mengaji.

Dalam memandang pemerintah, Ahmad meyakini bahwa pemerintah ini adalah pemerintahan kafir. Menurutnya, semua komponen yang terlibat di dalamnya adalah KAFIR. Pemimpin tertingginya, para pembantunya, perangkat-perangkat di bawahnya, dan siapapun yang terlibat dengannya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dinilainya telah KAFIR.

Lebih tegas lagi Ahmad meyakini, siapapun yang tidak mengkafirkan mereka, maka ia juga telah KAFIR. Hal ini disandarkan terhadap perkataan Syaikh Abdullah bin Abdul Wahhab berkenaan tentang 10 pembatal keimanan, yang salah satunya berbunyi, “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafiran mereka atau (justru) membenarkan madzhabnya maka ia telah KAFIR.” Read More…

Posted by: fren2006 | November 8, 2009

BIODATA

FREN butuh buat data base….ayo kita jaga ukhuwah qt,..salah satu ikhtiarnya kita kumpulin biodata selengkap munkin+impian kedepan,….

jgn sampe pada g da kabar

(masul)

Posted by: fren2006 | April 16, 2009

Mahkota Peradaban Ilmuwan Muslim

Oleh : Sixth Hokage FST

Informasi di media hingga kini telah memutar balikkan sejarah awal tumbuhnya tunas ilmu pengetahuan di permukaan bumi ini dan telah mengakar kuat di kebanyakan memori otak manusia. Menembus ruang dan waktu, merubah kiblat ilmu pengetahuan dunia, bahwa Islam yang dulunya menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia hingga kini telah bergeser seakan-seakan menjadi bangsa yang terbelakang dan jauh dari gelar kemajuan. Ironisnya, kita menjadi bagian dari orang-orang yang telah ikut serta mengakui itu semua. Mengagungkan salah satu pihak dan merendahkan pihak yang lain.

Hingga kini energi-energi ilmuwan muslim terasa ditelan bumi menghilang mengikuti laju arus dinamisasi perubahan kehidupan ini. Mengapa kita tidak lebih mengenal Al Khwarizmi ketimbang kita mengenal Galileo. Padahal Al Khwarizmi menyatakan bumi ini bulat sebelum Galileo menyatakannya. Bumi ini berputar pada porosnyapun telah diterangkan oleh Al Battani jauh sebelum dijelaskan Galileo. Ahli kimiapun tentu lebih mengenal Mary Mercurie ketimbang Jabir Ibnu Hayan. Padahal Jabir Ibnu Hayan telah banyak melakukan eksperimen kimia, penemu sejumlah perlengkapan alat laboraturium modern, system penyulingan air, identifikasi alkali, asam, garam, mengolah asam sulfur, soda api, asam nitrihidrokhlorik pelarut logam dan air raksa jauh sebelum Mary Mercurie. Dari yang saya pahami, masih ada puluhan ilmuwan muslim fenomenal dengan karya luar biasanya masing-masing. Read More…

Older Posts »

Categories